BACA BERITA TANPA IKLAN ,MATA30NEWS.COM REDAKSI : JL.AHMAD YANI 252 KOTA BANDUNG, HOT LINE BY WHATSAPP 087724408069 🔥 "Selamat Hari Raya Iedul Fitri "Mohon maaf Lahir dan Batin"🙏" Fenomena “Phubbing” Menggerus Etika Sosial: Saat Smartphone Mengalahkan Interaksi Manusia

Ticker

8/recent/ticker-posts

Ad Code 788-651-0323

Fenomena “Phubbing” Menggerus Etika Sosial: Saat Smartphone Mengalahkan Interaksi Manusia

Fenomena “Phubbing” Menggerus Etika Sosial: Saat Smartphone Mengalahkan Interaksi Manusia

BANDUNG – Di era digital yang semakin maju, kehadiran smartphone telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Namun di balik kemudahan yang ditawarkan, muncul fenomena sosial baru yang mulai mengkhawatirkan: phubbing.

Istilah phubbing merupakan gabungan dari dua kata dalam bahasa Inggris, yakni phone dan snubbing, yang merujuk pada perilaku seseorang yang lebih fokus pada ponsel dibandingkan orang di sekitarnya. Fenomena ini pertama kali diperkenalkan pada Mei 2012 oleh sekelompok ahli bahasa, sosiolog, dan budayawan di Sydney, Australia. Salah satu tokoh yang disebut berperan dalam mempopulerkan istilah ini adalah Alex Haigh.

Gejala Sosial yang Kian Mengakar

Dalam kehidupan modern, phubbing bukan lagi perilaku asing. Praktik ini dapat dengan mudah ditemukan di berbagai situasi—mulai dari ruang rapat, meja makan keluarga, hingga pertemuan informal bersama teman.

Seseorang yang sedang berbicara dengan petugas layanan publik namun sesekali menunduk melihat layar ponsel, orang tua yang mendampingi anak belajar sambil terus memeriksa notifikasi, hingga pasangan yang makan bersama tanpa interaksi berarti—semuanya merupakan contoh nyata dari perilaku phubbing.

Fenomena ini bahkan kerap disebut sebagai bentuk perilaku antisosial modern karena secara tidak langsung mengabaikan kehadiran orang lain di dunia nyata.

Dampak terhadap Hubungan Sosial

Para pengamat sosial menilai bahwa phubbing dapat berdampak serius terhadap kualitas hubungan antarmanusia. Kurangnya perhatian saat berinteraksi dapat menimbulkan perasaan tidak dihargai, mengurangi kedekatan emosional, hingga memicu konflik dalam hubungan keluarga maupun profesional.

Dalam konteks kelembagaan, seperti rapat di instansi pemerintah atau organisasi, perilaku ini juga dapat mencerminkan rendahnya etika profesional serta menurunkan efektivitas komunikasi.

Kampanye Anti-Phubbing Mulai Digencarkan

Melihat dampak yang ditimbulkan, sejumlah pihak mulai menggagas kampanye anti-phubbing. Imbauan untuk mengurangi penggunaan ponsel saat berinteraksi langsung kini semakin sering disuarakan, bahkan diusulkan untuk menjadi bagian dari etika formal di ruang-ruang rapat, termasuk di lembaga negara dan pemerintahan daerah.

Langkah sederhana seperti meletakkan ponsel dalam mode senyap, tidak memeriksa notifikasi saat berbicara, serta memberikan perhatian penuh kepada lawan bicara dinilai dapat menjadi solusi awal untuk mengatasi kebiasaan ini.

Refleksi di Tengah Kemajuan Teknologi

Meski teknologi diciptakan untuk mempermudah kehidupan, para ahli mengingatkan agar penggunaannya tetap bijak dan proporsional. Smartphone seharusnya menjadi alat bantu, bukan penghalang dalam membangun hubungan sosial yang sehat.

Mengurangi phubbing bukan berarti harus menjauhi teknologi, melainkan mengembalikan keseimbangan antara dunia digital dan interaksi nyata. Dengan demikian, nilai sopan santun dan penghormatan terhadap sesama tetap terjaga di tengah arus modernisasi.

“Jangan sampai perangkat yang kita miliki justru menjauhkan kita dari orang-orang terdekat,” menjadi pesan penting yang patut direnungkan bersama.


Ditulis Oleh : Mulyana Rachman.S.E.,M.M. Pemimpin Redaksi mata30news.com 


Posting Komentar

0 Komentar