| MEMANAS! Audiensi Tak Digubris, Komunitas BBC Siap Geruduk Balai Kota Bandung |
Bandung | mata30news.com — Ketegangan antara masyarakat dan Pemerintah Kota Bandung kian meningkat. Komunitas Buah Batu Corps (BBC) memastikan akan menggelar aksi unjuk rasa di halaman Balai Kota Bandung dalam waktu dekat, menyusul tidak adanya respons dari Wali Kota Bandung, Mohamad Farhan, atas surat permohonan audiensi yang telah diajukan.
Langkah aksi ini disebut sebagai bentuk kekecewaan sekaligus desakan agar pemerintah membuka ruang dialog dengan masyarakat. Hingga saat ini, belum diketahui alasan pasti mengapa permohonan audiensi tersebut tidak ditanggapi.
Ketua Antar Lembaga KBBC, Syaiful, menilai sikap tersebut mencerminkan kurangnya keterbukaan pemerintah terhadap aspirasi warga.
“Seharusnya Wali Kota Bandung bisa kooperatif kepada setiap permohonan audiensi warga kepadanya,” tegas Syaiful.saat Jumpa Pers di Sekretariat DPP Komunitas BBC Jl.Buah batu regency.
Ia juga menambahkan bahwa wali kota adalah pemimpin seluruh warga Bandung, bukan milik kelompok atau partai tertentu, sehingga wajib membuka ruang komunikasi yang adil dan transparan.
Isu “Tirani Ruang Publik” Kian Menggema
Rencana aksi ini tak lepas dari memanasnya kritik terhadap kebijakan pengelolaan ruang publik di Kota Bandung. Dalam pernyataan sikap yang beredar, kondisi saat ini bahkan disebut sebagai “darurat ruang publik”, dengan tudingan adanya pembatasan akses bagi masyarakat.
Ketua Umum KBBC, H. Bagus Machdiantoro, menyampaikan kritik keras terhadap kebijakan yang dinilai menutup ruang interaksi publik.
“Tidak ada situasi darurat yang bisa membenarkan pembatasan sejauh ini. Dalih keamanan dan konservasi jangan dijadikan tameng untuk menutup ruang publik,” ujarnya.
Menurutnya, ruang publik seperti taman kota, alun-alun, hingga kawasan aktivitas warga seharusnya tetap terbuka, sesuai dengan amanat regulasi, termasuk UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang yang menjamin akses masyarakat terhadap ruang terbuka.
Alun-Alun Dipagar, CFD Meredup
Sorotan tajam juga diarahkan pada kondisi Alun-Alun Bandung yang kini dipagar. Kebijakan tersebut dinilai bukan sekadar teknis, melainkan simbol eksklusivitas yang membatasi ruang gerak masyarakat.
Selain itu, nasib Car Free Day Buah Batu juga menjadi perhatian. Kegiatan yang sejak 2011 dikenal sebagai ruang interaksi sosial dan penggerak ekonomi UMKM disebut mengalami kemunduran, bahkan dianggap “salah kelola”.
Padahal sebelumnya, kegiatan ini rutin digelar setiap pekan dan menjadi pusat aktivitas warga sekaligus peluang ekonomi bagi pelaku usaha kecil.
Tuntutan Tegas Komunitas BBC
Dalam aksinya nanti, Komunitas BBC membawa dua tuntutan utama:
1. Mengembalikan fungsi Car Free Day Buah Batu sebagai ruang publik yang dikelola komunitas.
2. Mengembalikan fungsi Alun-Alun Bandung sebagai ruang terbuka untuk seluruh masyarakat, bukan ruang eksklusif
Bandung Kehilangan Wajah Ramah Publik?
Situasi ini memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat: apakah Bandung mulai kehilangan identitasnya sebagai kota yang ramah dan terbuka bagi publik?
Di tengah derasnya pembangunan dan penataan kota, warga kini menunggu sikap nyata dari Pemerintah Kota Bandung—apakah akan membuka ruang dialog dan berpihak pada rakyat, atau justru membiarkan jarak antara pemimpin dan masyarakat semakin melebar.(Moel)***



0 Komentar