Ticker

MATA30NEWS: Berita Terkini Tanpa Iklan — Silakan Tulis Judul Berita Anda di Sini — Info Bandung Hari Ini

Ad Code 788-651-0323 AkBF759kdLu0s0ntGMHcGUkB9cPrq7NVRC3qjgtECRU

https://siaplur.dprd.bandung.go.id/

Dua Guru Bandung Hadirkan Inovasi Pendidikan, Bejakeun dan Sikasep Perkuat Karakter Siswa



Bandung | Mata30news.com – Inovasi pendidikan tidak selalu harus berorientasi pada pencapaian nilai akademis. Pembentukan karakter, kemampuan mengelola emosi, membangun hubungan sosial, hingga menciptakan lingkungan sekolah yang aman juga menjadi bagian penting dalam proses pendidikan.

Hal tersebut ditunjukkan dua guru di Kota Bandung, Ilham Pauji dari SMPN 43 Bandung dan Irfan Fauzi dari SDN 093 Tunas Harapan Cijerah, melalui inovasi pendidikan yang dikembangkan untuk menjawab persoalan sosial dan emosional peserta didik.

Ilham menghadirkan aplikasi Bejakeun dan Someah sebagai sarana pencegahan perundungan sekaligus membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman. Sementara Irfan mengembangkan Sikasep (Sistem Informasi dan Evaluasi Keterampilan Sosial serta Pengembangannya) untuk membantu guru mengidentifikasi dan meningkatkan keterampilan sosial anak.

Inovasi Bejakeun berangkat dari pengalaman Ilham saat menyaksikan temannya menjadi korban perundungan ketika masih duduk di bangku SMP. Pengalaman tersebut mendorongnya menciptakan sistem pengaduan yang memungkinkan siswa melaporkan tindakan perundungan tanpa harus mengungkapkan identitas.

Dikembangkan sejak 2024, Bejakeun dilengkapi informasi mengenai bentuk perundungan, regulasi, serta penanganan laporan. Sistem tersebut juga melibatkan guru Bimbingan Konseling (BK), wali kelas, dan orang tua dalam proses penyelesaian persoalan.

Pengembangannya kemudian diperluas melalui Someah, akronim dari Sistem Operasi Manajemen Emosi, Akal, dan Hati. Platform ini tidak hanya menjadi sarana pengaduan, tetapi juga media pembelajaran karakter, toleransi, saling menghormati, dan pengendalian emosi.

Dampaknya mulai terlihat dari data laporan perundungan di SMPN 43 Bandung yang menunjukkan tren penurunan, dari 33 laporan pada tahun ajaran 2022/2023 menjadi 14 laporan pada 2025/2026. Pada tahun ajaran 2026/2027, tercatat lima laporan hingga waktu wawancara.

Sementara itu, Irfan Fauzi mengembangkan Sikasep berdasarkan pengamatannya terhadap siswa yang masih mengalami kesulitan berkomunikasi, bekerja sama, menyampaikan pendapat, hingga mengendalikan diri dalam pergaulan.

Melalui Sikasep, guru dapat melakukan asesmen terhadap lima aspek keterampilan sosial siswa, yakni kerja sama, asertivitas, tanggung jawab, empati, dan pengendalian diri.

Hasil asesmen menjadi dasar bagi guru untuk menentukan pola pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak.

Salah satu penerapannya dilakukan melalui program rutin "Kamis Bermain", yakni kegiatan permainan kelompok yang dirancang untuk melatih komunikasi, kerja sama, tanggung jawab, serta kemampuan mengelola emosi.

Tidak berhenti pada praktik pembelajaran, Irfan juga mendokumentasikan gagasannya melalui buku Pengembangan Keterampilan Sosial Anak Usia Sekolah Dasar yang diterbitkan Eureka Media Aksara pada Februari 2026. Ia turut mempublikasikan penelitian mengenai peran permainan kooperatif dalam meningkatkan keterampilan sosial siswa sekolah dasar di Journal of Curriculum and Teaching pada Agustus 2026.

Inovasi Sikasep mendapat dukungan Kepala SDN 093 Tunas Harapan Cijerah, Nyi R. Waluyawati. Menurutnya, sistem tersebut membantu sekolah mengidentifikasi hambatan keterampilan sosial siswa sekaligus menentukan langkah pendampingan yang lebih terarah.

Saat ini, Sikasep telah diadaptasi oleh lima sekolah lainnya.

Kehadiran Bejakeun, Someah, dan Sikasep memperlihatkan bahwa tantangan pendidikan tidak cukup dijawab melalui pembelajaran akademis semata.

Sekolah juga dituntut mampu menghadirkan lingkungan yang melindungi anak dari perundungan, mengembangkan kepedulian, serta memberikan ruang bagi setiap siswa untuk tumbuh sesuai karakter dan kebutuhannya.

Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan bukan hanya tercermin dari angka di dalam rapor, tetapi juga dari kemampuan anak menghargai sesama, membangun hubungan sosial yang sehat, dan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter.

(Moel)***



Posting Komentar

0 Komentar