OPINI :
Swasembada Pangan: Era Baru Petani Sejahtera dan Berdaya
(Pimpinan Redaksi mata30news.com)
Bandung | mata30news.com- Keberhasilan Indonesia meraih swasembada pangan di awal tahun 2026 bukan sekadar angka di atas kertas atau seremoni panen raya semata. Di balik melimpahnya stok beras nasional, tersimpan satu fakta fundamental yang sudah puluhan tahun kita mimpikan: Kesejahteraan petani kini bukan lagi angan-angan.
Data berbicara melalui Nilai Tukar Petani (NTP). Pada Desember 2025, NTP menyentuh angka fantastis 125,35—sebuah rekor tertinggi sepanjang sejarah. Sepanjang tahun 2025 pun, rata-rata NTP berada di angka 123,26. Bagi masyarakat umum, mungkin ini hanya deretan angka. Namun bagi dunia pertanian, ini adalah bukti nyata level kesejahteraan tertinggi dalam 33 tahun terakhir.
NTP di atas 100 adalah indikator bahwa petani kita mengalami surplus. Pendapatan yang mereka terima dari hasil keringat di sawah jauh melampaui biaya hidup dan biaya produksi. Ini adalah titik balik di mana bertani kembali menjadi profesi yang menjanjikan secara ekonomi.
Pernyataan Karyadi, seorang petani dari Rawamerta, Karawang, menjadi potret nyata di lapangan. Ia merasakan langsung bagaimana harga gabah yang kompetitif dan dukungan alat mesin pertanian (alsintan) membangkitkan motivasi mereka. Ketika pemerintah hadir melalui kebijakan yang berpihak, seperti harga beli Bulog yang layak (Rp6.500/kg) dan kemudahan akses pupuk, maka petani tidak lagi merasa berjuang sendirian.
Namun, kita harus sadar bahwa swasembada ini bukan kerja satu orang atau satu lembaga. Seperti yang ditegaskan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, ini adalah buah dari sinergi kolektif. Kolaborasi lintas kementerian, dukungan TNI/Polri dalam pengawalan pangan, hingga kerja keras BUMN Pangan adalah komponen yang membuat mesin kemandirian pangan ini bergerak.
Sebagai penutup, swasembada pangan adalah harga diri bangsa. Namun, menjaga kesejahteraan petani adalah nurani bangsa. Momentum NTP tertinggi sepanjang sejarah ini harus dijaga konsistensinya. Jangan biarkan petani kembali tertekan oleh harga saat panen raya tiba.
Kemandirian pangan yang sejati adalah ketika perut rakyat kenyang, dan kantong para petani tetap tenang. Mari kita kawal terus tren positif ini demi Indonesia yang berdaulat dan petani yang bermartabat.
Keberhasilan Indonesia mencapai swasembada pangan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto menciptakan kejutan besar di pasar internasional. Keputusan Indonesia untuk berhenti mengimpor beras sejak tahun 2025 memicu efek domino global yang mengakibatkan harga beras dunia turun drastis hingga 44 persen.
Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman, mengungkapkan bahwa melimpahnya pasokan di pasar global terjadi karena Indonesia tidak lagi menyerap stok dari negara produsen.
"Dampak positifnya adalah harga beras dunia turun dari US650 per metrik ton menjadi US340 per metrik ton. Karena Indonesia tidak lagi impor, otomatis barang melimpah di negara produsen seperti Vietnam, Thailand, India, hingga Pakistan," ujar Amran dalam kegiatan Panen Raya di Karawang, Rabu (7/1/2026).
Rekor Stok Beras Tertinggi dalam Sejarah
Presiden Prabowo Subianto secara resmi mengumumkan pencapaian swasembada ini dan menegaskan bahwa Indonesia kini sudah mandiri. Berdasarkan data terbaru, stok beras awal tahun 2026 mencapai 3,25 juta ton. Angka ini merupakan stok tertinggi sepanjang sejarah Indonesia, di mana sebelumnya cadangan awal tahun tidak pernah menembus angka 3 juta ton.
"Dalam satu tahun kita sudah swasembada, satu tahun kita sudah tidak bergantung pada bangsa-bangsa lain," tegas Presiden Prabowo saat meninjau teknologi pertanian modern di Desa Kertamukti.
Transformasi Pertanian Modern
Pencapaian ini bukan tanpa alasan. Kementerian Pertanian melaporkan bahwa swasembada diraih melalui integrasi berbagai kebijakan strategis, antara lain:
- Modernisasi: Penggunaan teknologi pertanian terbaru dan peremajaan alat mesin pertanian (alsintan).
- Infrastruktur: Pompanisasi masif dan perbaikan sistem irigasi di berbagai wilayah.
- Regulasi Pupuk: Penyederhanaan aturan pupuk bersubsidi melalui Perpres No. 6 Tahun 2025 yang memangkas birokrasi dan menurunkan Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar 20 persen.
- Keamanan Harga: Penyerapan gabah petani secara agresif oleh Bulog dengan harga yang kompetitif, yakni Rp6.500 per kilogram.
Keberhasilan ini membuktikan bahwa penguatan pangan nasional tidak hanya berdampak bagi kesejahteraan petani dalam negeri, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan terhadap stabilitas harga pangan global.()***
0 Komentar