BANDUNG| mata30news.com– Kota Bandung saat ini tengah berada dalam kondisi darurat sampah yang mengkhawatirkan. Dengan volume sampah mencapai 1.594,18 ton per hari dan TPA Sarimukti yang telah melebihi kapasitas hingga 700 persen, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengambil langkah strategis dengan menghidupkan kembali impian pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).
Langkah ini dipandang sebagai solusi konkret untuk memutus rantai permasalahan sampah yang selama ini hanya ditangani secara parsial. Meski program seperti "Kang Pisman" dan teknologi RDF telah berjalan, Wakil Wali Kota Erwin mengakui bahwa penanganan swadaya masyarakat masih menghadapi hambatan besar di lapangan.
Meneruskan Impian, Mengadopsi Kesuksesan Singapura
Program PLTSa bukanlah hal baru di Bandung; ide ini sempat diinisiasi oleh mantan Wali Kota Dada Rosada namun terhenti karena dinamika politik. Kini, di bawah kepemimpinan Farhan, rencana ini kembali menjadi prioritas dengan berkaca pada kesuksesan Singapura dalam mengelola sampah secara terintegrasi menjadi energi listrik bersih.
"Tidak ada kata terlambat. Dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pihak swasta, PLTSa adalah solusi tepat untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil sekaligus membersihkan kota," ungkap narasi kebijakan tersebut.
Rencana Strategis di Gedebage
Gedebage dinilai sebagai lokasi paling strategis untuk pembangunan PLTSa dengan rincian teknis sebagai berikut:
- Kapasitas Olah: 1.500 ton sampah/hari (50% sampah kota).
- Output Energi: 10 MW (mencukupi 10% kebutuhan listrik Bandung).
- Investasi: Rp 1,5 Triliun dengan skema kerjasama swasta.
- Dampak Ekonomi: Penjualan listrik diprediksi mencapai Rp 1,2 Miliar/hari dengan masa pengembalian modal (payback period) sekitar 5-7 tahun.
Dukungan Pengamat
Pengamat Kebijakan Publik dan Politik, R. Wempy Syamkarya, S.H., M.H., menilai rencana ini sangat rasional secara ekonomi dan ekologi. Berdasarkan studi kelayakan, teknologi PLTSa yang sudah terbukti di Jepang dan Singapura memiliki risiko rendah namun berdampak tinggi terhadap pengurangan beban TPA Sarimukti.
"Ini adalah momentum bagi kepemimpinan Farhan untuk menunjukkan aksi nyata yang responsif terhadap keluhan masyarakat selama bertahun-tahun," ujar Wempy.
Dengan pembangunan yang diprediksi memakan waktu dua tahun, PLTSa di Gedebage diharapkan menjadi tonggak baru Bandung menuju kota yang berkelanjutan dan mandiri energi.(MR)***

0 Komentar