| Poto illustrasi Made by Gemini AI |
BANDUNG, |mata30news.com – Babak baru pengelolaan aset Kota Bandung mulai bergejolak. Pemindahan aset Kebun Binatang dari Yayasan Margasatwa Tamansari (YMT) kembali ke pangkuan Pemerintah Kota Bandung dan Kementerian Kehutanan dipandang sebagai momentum emas. Ini bukan sekadar peralihan administrasi, melainkan sebuah "Renaissance"—kebangkitan ruang publik yang selama ini stagnan.
Pengamat Kebijakan Publik dan Politik, R. Wempy Syamkarya, S.H., M.H., menegaskan bahwa langkah berani Pemkot Bandung dalam mencabut izin YMT harus dibarengi dengan inovasi radikal.
"Ini adalah kesempatan emas untuk menciptakan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang fungsional sekaligus ikonik," ujarnya dalam analisis terbaru.
Visi Baru: Dari Konservasi Tradisional ke Ikon Modern
Wempy menawarkan peta jalan transformasi yang dibagi menjadi beberapa pilar strategis:
- Integrasi RTH dan Wisata Alam: Kebun binatang tidak boleh lagi dipandang sebagai deretan kandang besi. Transformasi menuju RTH yang luas harus menyediakan fasilitas rekreasi edukatif, jalur hiking, hingga area birdwatching.
- Modernisasi Interaktif: Fokus utama adalah menciptakan pengalaman unik bagi pengunjung melalui interaksi satwa yang etis dan wahana edukasi berbasis teknologi.
- Gagasan Spektakuler: Kebun Binatang Vertikal: Memanfaatkan keterbatasan lahan kota, konsep Vertical Zoo modern diusulkan untuk menjaga kepadatan RTH namun tetap menjadi ikon baru yang futuristik bagi Kota Bandung.
Revolusi Tata Kelola dan Kemandirian Anggaran
Menanggapi keterbatasan APBD, Wempy menekankan pentingnya "Political Will" dalam mencari pendanaan kreatif. Pemerintah tidak boleh berjalan sendiri. Beberapa opsi yang ditawarkan meliputi:
Restrukturisasi Pengelola: Pembentukan BUMD khusus atau skema KSP (Kerjasama Pemanfaatan) dengan sektor swasta yang lebih profesional.
- Pendanaan Multipihak: Pemanfaatan CSR perusahaan, penggalangan dana publik (crowdfunding), hingga mengejar grant (hibah) dari organisasi internasional yang peduli pada isu konservasi.
- Sinergi Akademis: Kerjasama dengan universitas untuk menjadikan kebun binatang sebagai pusat riset, yang secara otomatis akan menarik dana penelitian dan pengembangan.
"Transparansi dan akuntabilitas adalah harga mati. Masyarakat akan mendukung penuh jika setiap rupiah yang keluar masuk dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka," tegas Wempy.
Transformasi Fisik dan Kesejahteraan Satwa
Secara teknis, reorganisasi struktur SDM harus segera dilakukan oleh dinas terkait, seperti Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Dinas Pariwisata, dengan pengawasan ketat dari PKBI (Perhimpunan Kebun Binatang Indonesia).
Langkah konkret yang harus segera diambil meliputi:
- Evaluasi Koleksi: Memprioritaskan spesies yang memiliki nilai konservasi tinggi.
- Redesain Habitat: Mengubah kandang sempit menjadi habitat alami yang luas demi kesejahteraan hewan (animal welfare).
- Peningkatan Keamanan: Instalasi sistem keamanan canggih untuk menjamin kenyamanan pengunjung dan keselamatan satwa.
Harapan Besar bagi Kota Bandung
Perubahan besar-besaran ini memerlukan komitmen lintas sektoral. Bandung Zoo Renaissance bukan hanya tentang menyelamatkan hewan, tapi tentang memulihkan martabat aset kota yang selama ini terabaikan.
"Semoga gagasan ini menjadi meja diskusi bagi para pemangku kebijakan. Kita ingin kebanggaan Kota Bandung kembali bersinar di kancah nasional maupun internasional," tutup R. Wempy Syamkarya.
Oleh: Redaksi Politik & Kebijakan Publik
Kontributor: R. Wempy Syamkarya, S.H., M.H. (Pengamat Kebijakan Publik dan Politik)
0 Komentar