BACA BERITA TANPA IKLAN ,MATA30NEWS.COM REDAKSI : JL.AHMAD YANI 252 KOTA BANDUNG, HOT LINE BY WHATSAPP 087724408069 🔥 "Selamat Menunaikan Ibadah Puasa " Revitalisasi Pasar Cicadas Dinilai Lamban, PBT dan Pemkot Didorong Perkuat Finansial

Ticker

8/recent/ticker-posts

Ad Code 788-651-0323

Revitalisasi Pasar Cicadas Dinilai Lamban, PBT dan Pemkot Didorong Perkuat Finansial

Revitalisasi Pasar Cicadas Dinilai Lamban, PBT dan Pemkot Didorong Perkuat Finansial

BANDUNG|mata30news.com — Upaya pengembangan dan revitalisasi Pasar Cicadas kembali menjadi sorotan publik. Pengamat kebijakan publik dan politik R. Wempy Syamkarya menilai pengelolaan pasar oleh (PBT) perlu diperkuat, terutama dari sisi kemampuan finansial dan strategi pengembangan agar Pasar Cicadas tidak terus tertinggal di tengah pesatnya pembangunan pusat perdagangan modern.

Pasar Cicadas sendiri memiliki sejarah panjang sebagai salah satu pusat ekonomi penting di kawasan timur . Pasar ini sudah ada sejak awal abad ke-20 ketika kawasan Cicadas menjadi simpul pergerakan manusia dan barang. Pada tahun 1983, pasar berdiri di lahan yang kini menjadi kompleks (BTM) di Jalan Ibrahim Adjie.

Namun pada 2004, merencanakan revitalisasi pasar tersebut. Setahun kemudian, pembongkaran lapak pedagang mulai dilakukan dan para pedagang dipindahkan sementara ke lahan bekas Super Bazar Matahari.

Meski rencana revitalisasi telah lama digulirkan, hingga kini pengembangan Pasar Cicadas dinilai belum optimal. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan publik terkait arah kebijakan dan keseriusan pengelolaan pasar tradisional yang memiliki nilai sejarah dan budaya bagi warga Bandung.

Menurut Wempy, Pasar Cicadas seharusnya tidak hanya dipandang sebagai pusat perdagangan biasa, tetapi juga sebagai aset budaya dan ekonomi yang bisa dikembangkan menjadi destinasi wisata kota.

“Pasar Cicadas adalah bagian dari sejarah dan identitas ekonomi Bandung. Revitalisasi tidak boleh hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga harus memperkuat aspek budaya, ekonomi rakyat, dan keberlanjutan usaha pedagang,” ujarnya.

Ia menilai konsep pasar tradisional modern bisa menjadi solusi untuk menghidupkan kembali aktivitas ekonomi di kawasan tersebut. Konsep itu antara lain menggabungkan elemen tradisional dengan teknologi modern seperti sistem pembayaran digital, manajemen pasar yang lebih profesional, serta tampilan produk yang lebih menarik.

Selain itu, Pasar Cicadas juga dinilai memiliki potensi besar menjadi pusat kuliner dan budaya lokal. Kegiatan seperti festival makanan, pertunjukan musik tradisional, hingga pameran seni dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan dan masyarakat.

Di sisi lain, pengembangan UMKM juga harus menjadi prioritas. Penyediaan ruang inkubator bisnis, pelatihan kewirausahaan, hingga dukungan pemasaran dapat mendorong pedagang lokal lebih berkembang.

Namun untuk menjalankan program revitalisasi yang ambisius tersebut, kemampuan finansial PBT sebagai pengelola dinilai harus diperkuat. Salah satu langkah yang bisa ditempuh adalah membuka kerja sama dengan investor, mengajukan pendanaan ke lembaga keuangan, hingga memanfaatkan dukungan anggaran pemerintah.

“Pengelolaan aset, penerbitan obligasi daerah, hingga kerja sama dengan pihak swasta bisa menjadi opsi untuk memperkuat struktur keuangan PBT,” jelasnya.

Peran Pemerintah Kota Bandung juga dinilai sangat penting dalam mendorong keberhasilan pengembangan Pasar Cicadas. Pemerintah daerah diharapkan mampu memberikan dukungan kebijakan, regulasi, serta alokasi anggaran yang memadai.

Selain itu, koordinasi dengan investor, pedagang, dan masyarakat juga perlu diperkuat agar pengembangan pasar berjalan transparan dan tidak menimbulkan konflik kepentingan.

Wempy juga menilai perlu dilakukan kajian mendalam terkait lokasi pengembangan pasar. Opsi yang bisa dipertimbangkan antara lain mempertahankan lokasi asli, memindahkan sebagian aktivitas pasar ke lokasi yang lebih luas, atau menggabungkan konsep pasar heritage dengan pusat perdagangan modern.

Menurutnya, jika dikelola dengan baik, Pasar Cicadas berpotensi menjadi model pengembangan pasar tradisional modern yang sukses dan dapat menjadi pilot project bagi pengelolaan BUMD lain di Kota Bandung.

“Yang terpenting adalah komitmen semua pihak. Jangan sampai pasar yang memiliki sejarah panjang ini justru tertinggal dan kehilangan identitasnya,” tegasnya.

Ia berharap pembahasan mengenai masa depan Pasar Cicadas tidak berhenti pada wacana semata, melainkan menjadi agenda serius bagi pemerintah daerah, pengelola pasar, dan seluruh pemangku kepentingan.

“Jika dikelola dengan baik, pasar ini tidak hanya meningkatkan pendapatan daerah, tetapi juga menghidupkan kembali ekonomi rakyat,” pungkasnya. (Redaksi)***


Posting Komentar

0 Komentar