Momentum Asia-Afrika Harus Diubah Menjadi Strategi Diplomasi Global Berbasis Hukum, Pendidikan, dan Peradaban
Oleh: R. Wempy Syamkarya, S.H., M.H.
Pengamat Kebijakan Publik & Politik
Dewan Penasehat Analisaber Nasional
BANDUNG | Mata30News.com – Kehadiran 26 delegasi negara pada peringatan Konferensi Asia-Afrika (KAA) 2026 tidak boleh dipahami sebatas seremoni diplomatik. Lebih dari itu, momentum tersebut merupakan amanah sejarah dari Dasasila Bandung, sebuah dokumen politik internasional yang lahir pada 1955 dan mengubah arah hubungan antarbangsa melalui prinsip perdamaian, kedaulatan, serta anti-kolonialisme.
Pertanyaan mendasarnya kini adalah: Apakah Bandung akan terus menjadi museum sejarah, atau bertransformasi menjadi laboratorium peradaban baru dunia?
Jawaban atas pertanyaan itu bergantung pada keberanian pemerintah, akademisi, DPRD, dan masyarakat dalam mengubah warisan sejarah menjadi kebijakan publik yang konkret, berkelanjutan, dan berdampak global.
Bandung Memiliki Legitimasi Menjadi Kota Diplomasi Dunia
Secara historis, Bandung memiliki legitimasi moral yang tidak dimiliki kota lain di dunia. Konferensi Asia-Afrika 1955 melahirkan Dasasila Bandung, yang kemudian menjadi fondasi lahirnya Gerakan Non-Blok (GNB), memperkuat kerja sama Selatan-Selatan, serta memberi kontribusi besar terhadap perkembangan hukum internasional dan gerakan dekolonisasi.
Warisan tersebut merupakan modal diplomasi (soft power) yang hingga kini tetap diakui dunia.
Kehadiran 26 negara pada KAA 2026 menjadi bukti bahwa Bandung masih dipercaya sebagai ruang dialog internasional yang netral, aman, dan beradab. Kepercayaan tersebut sesungguhnya memiliki nilai strategis yang jauh melampaui seremoni, bahkan berpotensi menghasilkan manfaat ekonomi bernilai triliunan rupiah apabila dikelola secara profesional.
Dari perspektif ekonomi global, berbagai kota dunia telah membuktikan bahwa diplomasi dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi. Jenewa, misalnya, memperoleh kontribusi besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dari industri MICE, organisasi internasional, serta lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa. Wina juga menikmati ratusan juta euro setiap tahun melalui ekosistem diplomasi dan perdamaian.
Bandung sesungguhnya memiliki keunggulan yang tidak dimiliki kedua kota tersebut, yakni warisan historis Konferensi Asia-Afrika, keberadaan puluhan perguruan tinggi berkualitas, serta falsafah budaya Sunda Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh yang sangat relevan dengan pembangunan perdamaian dunia.
Diplomasi Harus Dikunci Melalui Instrumen Hukum
Agar gagasan "Bandung Kota Diplomasi Dunia" tidak berhenti sebagai slogan, diperlukan landasan hukum yang kuat.
Undang-Undang Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri memberikan ruang bagi pemerintah daerah untuk menjalin kerja sama internasional di bidang pendidikan, ekonomi, dan kebudayaan melalui koordinasi dengan pemerintah pusat.
Sementara itu, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah membuka peluang pelaksanaan urusan tertentu yang berkaitan dengan kerja sama luar negeri.
Momentum KAA 2026 seharusnya menjadi dasar bagi Pemerintah Kota Bandung untuk merevisi RPJMD dengan memasukkan agenda Bandung sebagai Kota Diplomasi Dunia sebagai salah satu program prioritas pembangunan beserta indikator kinerjanya.
Selain itu, diperlukan Peraturan Wali Kota mengenai Bandung Diplomatic City yang mengatur kawasan diplomatik, perlindungan delegasi asing, kemudahan investasi internasional, serta tata kelola kerja sama luar negeri.
Tanpa kepastian regulasi, perhatian dunia terhadap Bandung berpotensi berakhir sesaat setelah rangkaian acara selesai.
Empat Gagasan Strategis Menuju Bandung Diplomatic City
Transformasi Bandung menjadi pusat diplomasi dunia memerlukan langkah-langkah nyata.
Pertama, pembentukan Gedung Dasasila sebagai pusat mediasi konflik Asia-Afrika. Fasilitas ini dapat dikembangkan melalui kerja sama Pemerintah Kota Bandung, Kementerian Luar Negeri, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai ruang mediasi netral bagi konflik di kawasan Asia dan Afrika.
Kedua, pengembangan Visa KAA berupa jalur cepat bagi mahasiswa, peneliti, akademisi, maupun organisasi kemanusiaan dari negara-negara Asia-Afrika yang datang ke Bandung untuk kepentingan pendidikan dan penelitian.
Ketiga, pembentukan Sekolah Diplomasi Siliwangi melalui kolaborasi perguruan tinggi seperti Universitas Padjadjaran, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Pendidikan Indonesia dengan kurikulum yang memadukan Dasasila Bandung, hukum internasional, resolusi konflik, serta nilai-nilai budaya Sunda.
Keempat, pembentukan Dana Abadi Dasasila sebesar 0,5 persen APBD Kota Bandung untuk mendukung beasiswa internasional, penelitian, bantuan kemanusiaan, dan penguatan kerja sama Asia-Afrika.
Keempat gagasan tersebut akan menjadikan Bandung bukan hanya tempat penyelenggaraan konferensi, tetapi juga pusat lahirnya kebijakan, riset, diplomasi, dan solusi bagi berbagai persoalan global.
DPRD Harus Menjadi Penggerak, Bukan Penonton
Keberhasilan transformasi Bandung sebagai kota diplomasi dunia tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah daerah. DPRD Kota Bandung memiliki tanggung jawab konstitusional melalui fungsi legislasi, penganggaran, dan pengawasan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014.
DPRD semestinya segera mendorong pembentukan Peraturan Daerah tentang Bandung Kota Diplomasi Dunia, memastikan dukungan anggaran yang berorientasi pada program berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan seremonial, serta membentuk Panitia Khusus (Pansus) KAA 2026 guna mengevaluasi hasil konkret berupa kerja sama internasional, investasi, pertukaran akademik, dan dampak ekonomi yang dihasilkan.
Bandung Adalah Sebuah Gagasan Besar
Konferensi Asia-Afrika 2026 merupakan kesempatan bersejarah untuk menghidupkan kembali semangat Bandung yang pernah menginspirasi dunia.
Dua puluh enam delegasi negara yang hadir bukan sekadar tamu kehormatan, melainkan amanah sejarah yang harus dijawab melalui kebijakan visioner, regulasi yang kuat, serta keberanian membangun ekosistem diplomasi internasasional.
Jika momentum ini disia-siakan, Bandung hanya akan dikenang sebagai kota yang pernah menjadi saksi sejarah. Namun apabila dikelola dengan visi jangka panjang, maka satu abad mendatang dunia dapat kembali mencatat bahwa Bandung 2026 adalah titik kebangkitan baru semangat Asia-Afrika.
Sebab pada hakikatnya, Bandung bukan sekadar sebuah kota. Bandung adalah sebuah ide besar tentang dunia yang lebih damai, lebih adil, dan lebih beradab.(Red)***


0 Komentar